Kamis, 25 Februari 2021

BEKERJA UNTUK MERAIH KWALITAS HIDUP

 

MARI BEKERJA RAIH KWALITAS HIDUP

 

Setiap hari, setiap kita punya cerita sendiri menuju tempat kerja. Berdesak-desakan di kereta, terjebak macet hingga berjam-jam, atau bahkan motor kempes karena tertusuk paku. Bahkan ada pula yang harus kehilangan dompet, HP, uang dan barang lainnya akibat ulah jahat para pencopet. Semua itu tak jarang menghadirkan penat, lelah, bahkan stres.

Bagi para pekerja, semua itu tetap tidak pernah menghentikan langkah kaki menuju tempat kerja. Motivasi tinggi tertanam dalam diri, hal ini menjadi ruh untuk terus melangkah menempuh berbagai tantangan di jalanan hingga akhirnya sampai di tempat bekerja. Apapun yang terlihat berat dan susah, tetap dijalani dengan penuh riang gembira. Itulah moralitas para pekerja yang tak pernah lelah mencari berkah untuk menghidupi keluarga dan anak-anak.

Bekerja adalah bagian dari kemulian seorang muslim. Inilah moralitas bekerja menurut Islam. Dalam bekerja tersimpan sebuah nilai bahwa kita tidak boleh bermental menggantungkan kecukupan kita kepada orang lain atau sebuah institusi. Dalam sebuah hadis dikatakan, sebaik-baik orang adalah orang yang tidak pernah menggantungkan kehidupannya kepada orang lain.

Allah SWT sangat mencintai orang-orang mukmin yang mau bekerja keras untuk kehidupannya. Ini menjadi penanda bahwa setiap kita akan mendapat kemuliaan di sisi Allah SWT ketika berkeringat bekerja untuk keluarga. Di sisi lain, moralitas bekerja ini pulalah yang sesungguhnya menjadi faktor utama dalam membangun generasi yang kuat, terutama dalam hal ekonomi.

Pada setiap level pekerjaan, terdapat berbagai tantangan serta godaan yang tak jarang mengganggu mobilitas bekerja. Bagi kita yang berada dalam birokrasi pemerintah, tantangan itu sangat variatif dan cenderung massif sehingga tak jarang merusak konsentrasi kerja.

Di sisi lain, bekerja bagi birokrat tentu memiliki dimensi lain yang lebih luas, yaitu pelayanan dan pengabdian kepada negara. Mengabdi kepada negara berarti memberikan yang terbaik demi bangsa dan negara, demi kemajuan masyarakat dan demi terwujudnya kualitas kehidupan masyarakat yang baik. Dengan demikian, kita sesungguhnya adalah abdi masyarakat, untuk merekalah kita dedikasikan waktu, tenaga serta fikiran kita semua.

Mewujudkan reformasi birokrasi sebagaimana diamanatkan UU, adalah tantangan nyata bagi kita. Reformasi birokrasi yang telah bergulir bertujuan mewujudkan kualitas aparatur pemerintah yang professional, sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat terpenuhi dengan baik. Dari sinilah kita memahami bahwa reformasi birokrasi harus mencerminkan prinisp-prinsip perfesionalisme, akuntabilitas, transparansi dan kejujuran.

Spirit reformasi birokrasi harus kita maknai dalam dua dimensi yang saling berkaitan, pertama, semangat reformasi birokrasi merupakan cerminan kualitas relasi vertikal dengan Allah SWT. Prinsip-prinsip reformasi birokrasi sesungguhnya sejalan dengan nilai-nilai tauhid, yaitu kepatuhan kepada hukum Allah untuk menegakkan keadilan, kesejahteraan dan kejujuran. Reformasi birokrasi mencerminkan nilai-nilai keimanan dan keislaman,  sejalan dengan nilai-nilai ketuhanan, tidak melanggar apa yang digariskan oleh al-Qur’an dan hadits. Dalam hal ini, mewujudkan reformasi birokrasi adalah bernilai ibadah.

Kedua, reformasi birokrasi merupakan bagian dari strategi meningkatkan kualitas relasi sosial berupa peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan yang tercermin dalam semangat reformasi birokrasi secara tidak langsung mengajak kita semua untuk meningkatkan kualitas relasi sosial dengan sesama saudara.

Dalam upaya mewujudkan reformasi birokrasi kita membutuhkan spirit amanah guna menciptakan birokrasi yang visioner, akuntable dan transparan. Spirit amanah dengan sendirinya akan melahirkan ruh birokrasi yang tak kompromistis terhadap berbagai pelanggaran dan penyelewengan, pada saat yang bersamaan tumbuh berbagai inovasi dan kreasi visioner.

Rasulullah SAW telah memberikan tauladan berupa sikap amanah dalam bekerja. Sebagai Rasul yang bertugas menyampaikan ajaran Islam, beliau tidak hanya dituntut memiliki kecakapan berbicara dan beretorika, melainkan juga menampilkan perilaku mulia. Beliau tidak pernah menunda-nunda pekerjaan dan melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Inilah tauladan Rasulullah SAW yang harus kita tiru dalam mewujudkan birokrasi yang sehat.

Pada akhirnya, moralitas bekerja harus kita jabarkan dalam berbagai aktifitas birokrasi dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip kejujuran, keadilan, profesional dan akuntabel. Selain bernilai ibadah, hal ini juga menjadi tanda bahwa kualitas hubungan horizontal dengan sesama manusia terjalin sangat berkualitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROGRAM KERJA HUMAS

  PROGRAM KERJA WAKA HUMAS MTs NEGERI PACITAN TAHUN 2020/2021   NO PROGRAM DAN KEGIATAN TARGET / TUJUAN ...